Menembus Batas, Meraih Asa oleh Aminatuz zuhriyeh

Saya lahir dari seorang petani yang tinggal disebuah desa, jauh dari keramaian kota. Saya anak ketiga dari empat bersaudara, yang dimana kedua kakak perempuan saya sudah memiliki keluarga dan adik laki-laki saya sedang duduk di bangku SMP. Bapak saya selalu menghabiskan hari-harinya di sawah, menanam dan merawat tanaman yang menjadi sumber kehidupan kami. Ibuku membantu semampunya, sesekali ikut ke ladang atau menjual hasil panen kecil-kecilan di pasar desa. Dari hasil itulah kami mencukupi kebutuhan sehari-hari, termasuk makan, biaya, sekolah dan kebutuhan lainnya yang sering harus di tunda karena keterbatasan. Bapak dan ibu saya sering sekali sakit karena kelelahan bertani, yang dimana orang tua saya juga sudah mulai menua, tapi harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kami tinggal dirumah yang sederhana hanya berdindingkan seng dan beratap genteng biasa yang sering bocor ketika hujan datang. Bukan tempat yang ideal untuk tumbuh besar, tapi di sanalah saya mengenal arti kebersamaan, kesabaran, dan perjuangan.

Namun, sejak kecil saya percaya bahwa Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarga saya. Saya berusaha untuk rajin belajar, Ketika teman-teman sekolah saya sibuk dengan bimbingan belajar berbayar, saya hanya mengandalkan buku dan semangat yang tak pernah surut. Saya anak pertama yang nekat untuk melanjutkan sekolah saya ke SMP, SMA yang dimana kedua orang tua dan kakak perempuan saya hanya lulusan SD. Dan beruntungnya keluarga saya mendukung keputusan tersebut, saya tau dengan berlanjutnya Pendidikan saya, maka akan menambah beban keluarga karena biayanya yang tidak sedikit, tapi keluarga saya meyakinkan saya bahwa semuanya pasti ada jalannya yang penting kita niat belajar yang sungguh-sungguh.

Tiba saatnya saya lulus SMA, semua teman-teman saya sibuk membicarakan kampus dan jurusan impian mereka, saya hanya bisa diam. Dalam hati, saya pun punya mimpi yang sama, ingin kuliah, ingin belajar lebih tinggi. Tapi saya sadar, biaya kuliah bukan hal yang mudah bagi keluarga saya. Saya hampir memutuskan untuk tidak melanjutkan, rasanya lebih realistis jika saya langsung mencari kerja membantu meringankan beban ayah dan ibu. Namun, jalan Allah SWT selalu penuh kejutan, seorang guru meyakinkan saya untuk mendaftar KIP-K supaya meringankan biaya kuliahnya. Awalnya saya ragu, takut tidak lolos tapi beliau meyakinkan saya untuk mencoba.

Sebelum mendaftar saya mencoba untuk meminta izin kepada keluarga saya terutama kedua orang tua saya, untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Yang awalnya saya penuh semangat seketika air mata saya luruh begitu saja setelah mendengar jawaban dari orang tua saya, beliau menjawab “kuliah itu membutuhkan biaya yang sangat besar, kamu kan tau kita dari keluarga yang kurang mampu, biaya dari mana yang kami akan bayarkan untuk kuliahmu yang mahal itu”. Saya sudah meyakinkan kalo di perguruan tinggi itu ada jalur KIP-K, tapi karena kurang fahamnya orang tua saya tentang itu mereka tetap tidak mengizinkan saya untuk kuliah, dari sekian banyaknya keluarga saya, yang mendukung saya hanya beberapa yang lain hanya meremehkan. Bahkan kakak Perempuan kedua saya pun tidak mendukung hal itu, dia bilang “untuk apa kamu kuliah, ujung-ujungnya juga pasti di dapur, mending kamu kerja buat bantu keluarga jangan bisanya cuma jadi beban, kalo kamu sekolah terus kapan kamu akan membantu keluarga”. Di situ mental saya down saya selalu menangis dalam diam di setiap malam, memikirkan kedepannya, kepala yang penuh riuh pikiran sudah berantakan.

Tapi dengan bekal keberanian, saya mendaftar kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya jalur SPAN-PTKIN, setelah pengumuman tiba ternyata saya tidak lolos seleksi tersebut, kemudian saya mendaftar UM-PTKIN saya belajar dengan sungguh-sungguh supaya bisa lolos seleksi tersebut. Ketika hari dimana saya melaksanakan tes seperti biasa saya ke kampus hanya seorang diri tanpa ditemani oleh keluarga saya, bahkan saya mendaftar kampus dimana pun mereka tidak tau. Saya menangis melihat teman-teman saya yang ditemani oleh keluarganya bahkan orang tuanya, mereka diberi semangat dan keyakinan untuk melaksanakan tes tersebut, saya hanya tersenyum getir dengan guliran air mata di pipi saya. Ketika pengumuman tiba saya benar-benar takut, kalo usaha saya akan sia-sia tapi ternyata Allah tau usaha dan keinginan saya, saya dinyatakan lolos seleksi tersebut. Dengan penuh bahagia saya menunjukkan hasil usaha saya ke keluarga saya, dan seperti biasa tidak ada apresisasi apapun, saya sudah terbiasa akan hal itu karena saya tau keluarga saya membutuhkan bukti nyata dari usaha saya. Saya mempersiapkan semua persyaratan seorang diri dari mulai daftar kuliah sampai mendaftar ulang pun saya mengurus berkas-berkas seorang diri kemana-mana selalu sendiri dan itu sudah biasa.

Ketika pendaftaran AMBISI KIP-K saya mendaftarkan diri saya, saya melengkapi semua berkas nya dengan penuh harap lolos KIP-K tersebut untuk melanjutkan kuliah saya. Ketika pengumuman kelolosan sungguh saya menangis penuh harap atas segala usaha yang saya lakukan, dan ya saya diterima, dari situ saya percaya yang terpenting kita punya niat yang baik dan usaha juga doa yang cukup semuanya tidak akan ada yang sia-sia, karena Allah maha mengetahui segalanya. Bagi saya, beasiswa itu bukan hanya soal uang kuliah, tapi juga simbol bahwa mimpi anak yang berasal dari keluarga kurang mampu seperti saya tidak mustahil untuk diperjuangkan. Saya membagikan momen bahagia itu kepada keluarga saya, dan ya seperti biasa hanya sebagian kecil yang mengapresiasi, tapi saya bangga kepada diri saya karena bisa melewati titik terendah itu meskipun tanpa dukungan dari siapapun bahkan keluarga sendiri.

Memasuki dunia perkuliahan saya dihadapkan realitas baru, teman-teman saya datang dari berbagai latar belakang, banyak dari mereka yang terlihat mapan, punya fasilitas yg cukup, sedangkan saya jauh dari itu. Kadang saya merasa malu dan merasa kecil, tapi saya terus meyakinkan diri saya: saya disini bukan untuk di bandingkan, tapi untuk belajar dan mewujudkan mimpi saya. Saya akui, saya bukan mahasiswa yang berprestasi. Tapi saya berusaha untuk mencoba hal baru seperti mengikuti berbagai organisasi untuk mengembangkan bakat minat saya, mungkin itu terlihat biasa saja, tapi bagi saya itu luar biasa, karena saya mampu beradaptasi dengan cepat dilingkungan yang baru tanpa ada seorang pun yang saya kenal. Saya sadar, perjalanan saya masih panjang. Tapi langkah kecil yang saya ambil dari rumah sederhana dan tanpa dukungan dari keluarga itu sudah membawa saya sejauh ini. Saya tidak tau kedepannya akan jadi seperti apa, tapi satu hal yang pasti: saya tidak akan menyerah, selama masih ada kesempatan, doa dan usaha saya akan terus berjalan.

Keterbatasan memang membatasi banyak hal, bahkan dukungan dari orang terdekatpun juga penting. Tapi itu tidak akan pernah bisa membatasi harapan dan tekad. Justru dari sanalah saya belajar arti Syukur, usaha dan mimpi yang sesungguhnya. Mungkin sekarang saya bukan siapa-siapa, tapi saya yakin, saya sedang menuju sesuatu yang besar, Pelan tapi pasti. Dan saya akan menunjukkan bahwa saya bisa, kepada orang yang telah meremehkan saya, sekalipun itu keluarga saya sendiri. Karena saya percaya “siapapun bisa menjadi apapun”.

مَن جدَّ وَجَدَ, وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *