LANGKAH TANPAMU, AYAH : kepergianmu adalah luka, tapi juga alasan terbesar aku bertahan oleh Hidayatur Rahmaniyah Salsabila

Sejak kecil, Alya tumbuh di tengah segala keterbatasan, tapi ia tak pernah merasa kekurangan. Hidup di rumah yang sederhana, ia belajar bahwa mimpi besar sering kali lahir dari tempat yang paling sunyi. Pondok pesantren menjadi rumah keduanya, disanalah jauh dari hiruk pikuk dunia luar, Alya menanamkan tekad untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Alya bertumbuh menjadi gadis ambisius, haus ilmu, dan penuh semangat. Prestasinya di pondok tak pernah mengecewakan. Lomba pidato, hafalan, karya tulis hampir semua pernah ia bawa pulang pialanya. Namun di balik tawa, ada rindu yang tak pernah ia ucapkan keras-keras. Rindu pada Ayah. Ayahnya, Pak Rahman, sosok yang selalu tersenyum setiap kali mengantar Alya ke pondok yang selalu berpesan, “Belajarlah sungguh-sungguh Nak. Dunia ini luas dan kamu harus kuat untuk mengarunginya.”

Hari-harinya penuh dengan hafalan, belajar kitab kuning, dan memperdalam berbagai bidang ilmu. Salah satu mimpinya yang paling besar adalah wisuda dengan nilai terbaik. Ayahnya, Pak Rahman, bahkan pernah berjanji suatu sore ketika mengantarnya kembali ke pondok “Kalau nanti kamu wisuda, Ayah bakal datang pakai baju terbaik dan kita foto bareng ya Nak.” Janji itu sekuat doa yang menempel di dada Alya. Namun, hidup seperti biasa suka menguji mimpi dengan cara yang tak pernah kita duga. Di pagi hari saat Alya baru saja menyelesaikan setoran hafalannya, ustazah memanggilnya ke kantor dengan wajah muram.”Alya… Kamu harus pulang ke rumah dulu,” kata ustazah lembut.”Kenapa ustazah?”, sahutku. “Ayahmu… Ayahmu sakit. Sekarang opname. Ibumu minta kamu pulang.”

Jantung Alya mencelos. Tapi ia menguatkan diri, Ayahnya pasti bisa sembuh. Ini hanya ujian kecil. Ditemani salah satu pengurus pondok, Alya diantar pulang dengan naik motor. Sepanjang perjalanan, pikirannya penuh dengan bayangan Ayah. Ia membayangkan akan langsung ke rumah sakit, membawa doa-doa yang biasa ia baca di mushola pondok. Namun saat motor itu berhenti di depan rumahnya, sesuatu terasa janggal. Terlalu banyak orang, terlalu banyak sandal berserakan di teras. Dan terdengar suara pelan orang-orang bertahlil. Alya berlari masuk ke rumah dan dunia serasa berhenti. Di ruang tengah, Ayahnya sudah terbujur kaku, dibalut kain putih. Bukan di rumah sakit. Bukan sedang dirawat. Ayah sudah pergi untuk selamanya.”Ayahhh!”

Teriakan itu keluar dari dada Alya, nyaring, pilu, menghentak seluruh isi rumah. Tubuhnya ambruk di samping jasad Ayah. Dunia Alya runtuh seketika. Semua doa, semua harap, semua janji tentang foto bersama di hari wisuda kini tinggal kenangan yang tak mungkin terwujud. Ibunya, Bu Rahmi, memeluk Alya sambil menangis.”Ibu nggak mau kamu panik nak… Ibu cuma mau kamu bisa ketemu Ayah untuk terakhir kalinya…” bisik Ibu, suaranya pecah di antara tangis.Malam itu, Alya belajar satu hal:Bahwa terkadang mimpi terbesar harus tetap dijalani, meski orang yang paling kita cintai tak lagi bisa menyaksikannya. Meski hatinya hancur, Alya memilih bertahan. Ia kembali ke pondok. Ia menahan semua luka di dada, menahan semua air mata di balik sujud panjang malam-malamnya. Ia menyelesaikan setoran hafalannya. Ia mengikuti ujian akhir pondok dengan kepala tegak, meski jiwanya rapuh. Dan akhirnya, hari itu tiba, hari wisuda. Aula pondok dipenuhi keluarga santri. Wajah-wajah penuh bangga, peluk-peluk hangat antara ayah, ibu, dan anak yang baru saja diwisuda. Alya berdiri sendiri. Ibu memang datang, dengan baju terbaik dan menahan tangis sepanjang acara.

Tapi tak ada sosok Ayah yang dulu berjanji akan memeluknya di hari ini. Tak ada sesi foto ayah anak. Tak ada genggaman tangan hangat itu. Saat namanya dipanggil “Nilai terbaik diraih oleh Alya Rahmania binti alm. Bapak Rahman” tepuk tangan bergema di aula. Alya melangkah ke panggung. Kepalanya menunduk, air matanya menetes satu-satu. Tapi di dalam hatinya, ia tau Ayah tetap melihatnya dari tempat yang jauh. Saat kamera memotret, saat piagam diserahkan ke tangannya yang gemetar, Alya tersenyum. Sebuah senyuman yang pahit, tapi penuh keteguhan. Dalam hati, ia berbisik”Ayah, aku sudah menepati janji. Aku tetap berdiri di sini. Meski tanpamu di sampingku”.

Setelah wisuda, Alya mengambil keputusan besar ia akan melanjutkan kuliah. Meski banyak orang berkata, “Sudahlah Ly, kerja saja bantu Ibu,” Meski dunia seolah berkata, “Mimpimu terlalu tinggi untuk orang sepertimu,” Alya memilih melawan. Hari-hari setelah kepergian Ayah berubah menjadi ujian yang berat. Ibu kini harus banting tulang berjualan kecil-kecilan di depan rumah, hanya untuk cukup makan sehari-hari. Sementara itu, Alya dihadapkan pada pilihan sulit tetap melanjutkan pendidikan atau berhenti dan membantu Ibu.Tapi Alya tahu, Ayah tidak akan mau melihatnya menyerah.

Dengan semangat sisa-sisa, Alya mendaftarkan diri di Universitas Islam Negeri . Di tengah keterbatasan uang, di tengah keraguan tetangga, di tengah derai air mata yang belum kering, ia tetap melangkah. Di sela-sela pendaftaran, Alya menemukan informasi tentang beasiswa KIP Kuliah. Beasiswa untuk mahasiswa dari keluarga kurang mampu, yang memiliki prestasi akademik. Matanya berbinar. “Ini jalanku.”Ini mungkin satu-satunya jalan agar ia bisa tetap melanjutkan mimpinya tanpa membebani Ibu. Ia mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan. Surat keterangan tidak mampu, akta kematian Ayah, nilai rapor dari pondok, semua disusun rapi dengan tangan bergetar namun penuh harapan. Setiap malam, Alya berdoa dalam sunyi, menatap langit yang kini terasa lebih kosong tanpa Ayah.”Ya Allah… Kalau memang jalanku masih panjang, tuntunlah. Tapi kalau harus terhenti, kuatkan aku untuk tetap bersyukur.”

Pada suatu sore yang mendung, saat ia baru selesai membantu Ibu berjualan di warung kecil depan rumah, Alya menerima sebuah email. Dengan tangan bergetar, ia membuka pesan itu. “SELAMAT! Anda dinyatakan sebagai penerima Beasiswa KIP Kuliah.” Alya memeluk layar ponselnya, tubuhnya bergetar hebat. Ia tersedu, bersujud di lantai ruang tamu rumahnya yang sederhana, sujud syukur penuh air mata. “Ibu… Alya keterima Bu…” Ibu yang mendengar kabar itu hanya bisa memeluk Alya sambil menangis.

Malam itu, langit kampung kecil mereka dipenuhi bintang, seolah ikut merayakan kemenangan kecil Alya. Bukan hanya kemenangan melawan keterbatasan, tapi juga kemenangan atas rasa takut, atas duka, atas keraguan. Di dalam hati, Alya berbisik kepada Ayah yang kini hanya ada di langit “Ayah, lihat aku. Ini baru langkah pertama. Aku janji, aku akan membuat Ayah bangga.” Dan untuk pertama kalinya pula, Alya merasa bahwa langkah kecilnya di dunia yang keras ini benar-benar berarti. Bahkan dalam duka, selalu ada cahaya kecil yang membimbing mereka yang mau terus berjalan.

Hari itu, matahari terasa lebih hangat dari biasanya. Dengan tas ransel peninggalan Ayah, Alya melangkah memasuki gerbang universitas impiannya. Gadis kecil itu, kini resmi menjadi seorang mahasiswi. Sesuatu yang dulu hanya bisa ia lihat lewat layar handphone pinjaman teman pondok, kini menjadi nyata. “Alya Rahmania, Mahasiswi Baru Jurusan Hukum Ekonomi Syariah,” gumamnya sambil membaca name tag kecil di dadanya. Senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum sederhana, tapi penuh rasa syukur. Semua ini, semua langkah kecil ini, berkat doa Ibu, kerja kerasnya, dan… mungkin juga restu Ayah dari surga.

Masa orientasi mahasiswa baru berjalan seperti badai. Pengenalan kampus, kuliah umum, tugas-tugas kecil, seminar motivasi, semuanya menghantam Alya yang baru saja beradaptasi dari suasana pondok. Tapi satu hal membuat Alya tetap bertahan. Ia tahu, ia ada di sini bukan untuk main-main. Saat diumumkan bahwa penerima beasiswa KIP Kuliah harus membentuk ketua angkatan untuk mengelola komunikasi dan kegiatan, Alya merasa terdorong. Bukan karena ia ingin tampil. Tapi ia ingin berkontribusi, membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk pasif. Maka dengan tangan gemetar, Alya mendaftarkan diri sebagai calon ketua angkatan. Proses seleksi berlangsung sederhana namun menegangkan. Semua calon diminta mengisi formulir, membuat visi-misi mereka, lalu mengikuti sesi wawancara kecil di hadapan panitia kampus. Saat hari pengumuman tiba, Alya hampir tak berani membuka emailnya. Tapi ketika akhirnya ia melihat namanya tertera di atas daftar “Ketua Angkatan KIPK 2024 — Alya Rahmania” Air matanya langsung menggenang. Bukan karena ambisi, tapi karena rasa syukur yang tak terkira. Bahkan di dunia yang baru ini, ia bisa dipercaya.

Hari-hari Alya kini semakin padat. Selain kuliah, ia harus mengatur data teman-teman sesama penerima beasiswa, berkoordinasi dengan yang lainnya, hingga menghadiri rapat-rapat kecil. Semua itu melelahkan, tapi Alya menikmatinya. Ia merasa setiap langkah kecil ini adalah bentuk penghargaan terhadap doa Ayah, usaha Ibu, dan janji-janji pada dirinya sendiri. Di tengah kesibukan itu, Alya mulai dekat dengan beberapa teman sekelasnya. Salah satunya, seorang cowok sederhana bernama Rafa.

Rafa adalah teman sekelas yang duduk dua baris di belakangnya. Bukan tipe yang heboh, malah cenderung pendiam, tapi selalu sigap membantu. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Alya kebingungan mencari ruang kelas. “Aku juga baru pertama, kayaknya ruang G-3 di sebelah gedung rektorat, deh,” kata Rafa sambil mengarahkan Alya dengan tenang. Beda dengan teman-teman lain yang sibuk selfie atau heboh di grup chat, Rafa lebih banyak mengamati dan membantu diam-diam. Sejak itu, tanpa banyak kata, Alya dan Rafa sering belajar bareng, saling meminjam catatan, atau sekadar mengerjakan tugas kelompok bersama. Ada ketenangan yang Alya rasakan saat di dekat Rafa. Bukan karena obrolan panjang atau janji manis. Tapi karena kehadiran Rafa selalu terasa pas, tanpa dibuat-buat. Tentu saja, hidup Alya tak serta merta menjadi mudah. Kadang ia harus begadang menyusun laporan, kadang harus rela makan mi instan berturut-turut karena uang kiriman Ibu belum masuk. Kadang harus menahan rindu ketika melihat teman-temannya dijemput ayah mereka saat weekend. Tapi setiap kali hampir tumbang, Alya menatap piagam-piagam kecil yang pernah ia menangkan di pondok. Setiap kali hampir menyerah, ia teringat janji-janji yang pernah ia buat, janji kepada Ayah, janji kepada dirinya sendiri. Dan kadang tanpa disadari, ada pesan kecil dari Rafa masuk ke WhatsApp: “Semangat Ly. Kalau kamu butuh teman belajar atau butuh bantuan kabarin aja ya.” Rafa bukan tipe yang banyak janji, tapi setiap kali Alya terlihat lelah, Rafa akan ada. Kadang hanya dengan membawakan air minum, kadang sekadar menyelipkan notes kecil bertuliskan: “Pelan-pelan Ly. Kamu nggak harus kuat sendirian.” Pesan sederhana, tapi bagi Alya itu cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.

Malam-malam Alya tak lagi hanya diisi air mata sepi. Kini ada tawa kecil di sela-sela tugas kuliah. Ada diskusi ringan seputar mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum, ada dukungan diam-diam yang selalu datang tepat saat ia membutuhkannya. Mungkin, dunia tidak sepenuhnya kejam. Mungkin, di dunia barunya ini, Alya mulai menemukan cahaya-cahaya kecil yang membantu langkahnya tetap kokoh, meski badai terus datang. Dan Alya tahu, ini baru permulaan. Perjalanan panjang masih menunggunya di depan. Tapi setidaknya, kali ini… Ia tidak sepenuhnya sendiri.Semester pertama berjalan seperti perjalanan panjang yang tak kenal ampun. Tugas kuliah menumpuk, presentasi demi presentasi harus dipersiapkan, dan kadang, hanya segelas kopi sachet murahan yang menjadi teman setia begadang Alya dan Rafa. Mereka berdua seperti partner tak resmi. Saling memotivasi, saling mengingatkan deadline, saling menguatkan saat dosen melempar tugas dadakan. Di sela-sela kesibukan itu, kampus mengumumkan pembukaan pendaftaran untuk Himpunan Mahasiswa Program Studi atau lebih akrab disebut HIMA Prodi. “Ly daftar yuk,” kata Rafa saat mereka duduk di bawah pohon ketapang depan fakultas, membolak-balik brosur organisasi. Alya menatap brosur itu lama. Ada keraguan di matanya. “Aku… takut bentrok sama tanggung jawab beasiswa,” gumamnya. “Kalau takut bentrok, tinggal atur waktunya,” sahut Rafa ringan. “Organisasi tuh penting Ly. Buat nambah pengalaman, buat nambah kenalan.” Alya mengangguk.

Dalam hatinya ada ketakutan, tapi juga ada semangat kecil yang menyalak. Akhirnya, mereka berdua mendaftar. Seleksi HIMA tidak semudah yang mereka bayangkan. Ada formulir yang harus diisi, esai motivasi yang harus ditulis, dan sesi wawancara dengan kakak-kakak pengurus sebelumnya. Alya mengerjakan semuanya dengan sungguh-sungguh. Begitu juga Rafa, meski kadang ia terlihat lebih santai. Hari pengumuman tiba. Alya berdebar saat membuka pengumuman online di portal kampus. Namanya ada di daftar. Alya Rahmania — Diterima Sebagai Anggota HIMA Prodi.Tangannya bergetar memegang handphone. Rasanya seperti mendapatkan hadiah kecil di tengah kerasnya dunia perkuliahan.Tapi kegembiraannya terhenti ketika ia mencari nama Rafa… dan tidak menemukannya. Alya langsung menghubungi Rafa. “Fa… kamu udah cek pengumuman?” tanyanya pelan lewat telepon. “Hahaha… iya, Ly. Aku nggak lolos,” jawab Rafa, terdengar santai. Terlalu santai, sampai Alya tahu, ada luka kecil di balik suaranya. Alya terdiam sejenak, menahan rasa bersalah. Bukannya Rafa yang ngajak daftar duluan? Kenapa malah dia yang nggak lolos? “Tapi nggak apa-apa kok,” lanjut Rafa cepat, seolah membaca pikiran Alya. “Mungkin jalan kita emang beda.” Alya menggenggam ponselnya erat.

Ia ingin berkata banyak, ingin minta maaf, ingin menawarkan sesuatu… tapi yang keluar hanya satu kalimat “Aku bangga sama kamu, Fa.” Suasana di antara mereka hening sesaat, tapi hangat. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman. Seperti dua orang yang mengerti satu sama lain tanpa banyak kata. Beberapa hari kemudian, Alya mulai aktif di HIMA. Rapat-rapat kecil, pelatihan internal, bahkan proyek-proyek kampus mulai mengisi jadwalnya. Sementara itu, Rafa fokus di akademik. Nilai-nilainya stabil, tugas-tugasnya rapi, dan ia sering membantu teman-teman lain belajar. Mereka tetap sering bertemu di kelas, di kantin, di perpustakaan. Dan setiap kali Alya merasa lelah karena organisasi menguras waktu dan tenaganya, Rafa selalu menjadi tempatnya pulang. “Jangan sampai organisasi bikin kamu lupa tujuan utama kita ke sini,” kata Rafa suatu sore, saat mereka belajar di sudut perpustakaan.Alya mengangguk. Ia tahu, Rafa benar. Mereka datang ke kampus ini bukan untuk sekadar sibuk, tapi untuk menyiapkan masa depan. Suatu malam, setelah rapat panjang HIMA, Alya mengirim pesan ke Rafa “Kamu bener, Fa. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Aku seneng banget bisa jalan bareng kamu, meskipun jalannya kadang beda.” Tak lama kemudian, balasan itu datang “Sama, Ly. Kita tetap partner perjuangan kan? Walaupun lewat jalan yang berbeda.” Alya tersenyum kecil menatap layar ponselnya. Langit malam di atas kosannya tampak begitu luas, dan untuk pertama kalinya, ia merasa… mungkin jalan hidup memang tak harus selalu searah untuk tetap berjalan bersama.

Hari-hari Alya makin penuh warna. Tugas kuliah, kegiatan HIMA, proyek sosial kampus, semua mengisi waktunya hingga hampir tak ada ruang untuk sekadar bernapas panjang. Di tengah kesibukan itu, Alya mengikuti lomba menulis kisah inspiratif. Ia begadang berhari-hari, memperbaiki makalah, berdiskusi dengan dosen mata kuliah, bahkan menangis di tengah malam saat semua terasa terlalu berat. Tapi Alya bertahan. Karena ia tahu, perjuangannya lebih besar dari sekadar memenangkan lomba. Ini tentang membuktikan bahwa mimpi anak yang tumbuh tanpa figur ayah pun punya tempat di langit impian. Rafa juga tak kalah sibuk. Walaupun tak masuk organisasi, ia terus bersinar lewat akademik. Semester ini, Rafa mendapatkan hasil nilai IPK hampir sempurna, ia menjadi bukti bahwa jalan sunyi pun bisa berujung indah. Suatu sore, Alya dan Rafa duduk di bangku tua belakang gedung rektorat.Sore yang lengang, angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah. “Kamu keren, Fa,” kata Alya pelan, sambil menatap senja.”Kamu juga Ly,” jawab Rafa. “Aku salut sama kamu. Bisa bagi waktu antara kuliah, organisasi, dan… semua badai hidupmu.” Mereka tertawa kecil. Tak perlu banyak kata. Mereka saling mengerti perjuangan masing-masing tak pernah benar-benar mudah. Waktu berjalan cepat. Alya dan Rafa masih berdiri di jalan yang mereka pilih, beriringan, meski jalur dan fokus mereka berbeda. Kadang bertemu, kadang berpapasan, kadang saling menyemangati dari jauh. Tapi satu hal tak pernah berubah, semangat mereka untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Hidup seperti perjalanan panjang di malam hari, kadang terasa gelap dan sepi. Kadang kita hanya melihat satu dua bintang kecil, kadang langit sepenuhnya mendung. Tapi seperti Alya dan Rafa, kita semua diajarkan satu hal penting:Bahwa tidak semua jalan harus sama untuk menuju cahaya. Ada yang berjalan lambat, ada yang berlari. Ada yang melalui jalan sunyi, ada yang sibuk menapak di tengah keramaian. Ada yang jatuh berkali-kali, ada yang harus kehilangan orang-orang terkasih di tengah jalan.Namun sejatinya, perjuangan bukan tentang siapa yang paling cepat tiba. Perjuangan adalah tentang siapa yang tetap melangkah, bahkan ketika dunia terasa berat. Alya si gadis pondok dengan ransel lusuh, si anak kecil yang dulu hampir menyerah kini menatap masa depannya dengan penuh harap. Rafa si pemuda sederhana yang memilih jalur sunyi tetap menjadi saksi diam atas betapa hebatnya kesetiaan pada mimpi. Mereka membuktikan, bahwa lahir dari keterbatasan bukanlah kutukan. Bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Mereka adalah kita. Kita yang sedang berjuang. Kita yang sedang belajar bertahan. Kita yang entah dengan cara apa sedang mencoba menjadi bintang kecil di langit yang luas ini. Karena di ujung setiap langkah, selalu ada satu cahaya kecil menunggu. Cahaya tentang mimpi, tentang doa, tentang cinta, dan tentang keberanian untuk terus berjalan, seberat apa pun jalannya. Dan siapa pun kita hari ini, percayalah… langit punya cukup ruang untuk semua bintang yang berani bersinar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *