Langkah Kaki Santri dari Pesantren Menuju Panggung Mimpi oleh Riris Dyah Pitaloka

Aku Riris, seorang santriwati dari desa yang punya keinginan besar untuk kuliah dan
menggapai pendidikan yang tinggi. Dari kecil, orang tuaku mengajari untuk disiplin dan
bertanggung jawab. Ayahku adalah seorang pedagang asongan. Di usia enam tahun, ayah
mengajariku bahwa memiliki sepeda impian harus dibayar dengan jerih payah perjuangan, aku
ikut membantu ayah menjual dagangannya hingga mendapatkan cukup uang untuk
membelinya. Ibuku seorang ibu rumah tangga, setiap pulang sekolah ibu selalu siap dengan
buku pelajaran terbuka untuk menemaniku mengulang pelajaran yang telah diajarkan di
sekolah. Prestasiku di sekolah cukup memuaskan yaitu menjadi anak teraktif waktu sekolah taman
kanak-kanak karena sering mengikuti lomba dan selalu aktif dalam setiap kegiatan atau acara,
memperoleh juara 1 berturut-turut dari kelas 1 sampai kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah ditambah
dengan sertifikat kejuaraan yang beragam dan deretan piala yang terpajang rapi di ruang tamu.
Ayah dan ibuku bangga, selalu mengunggul-unggul kan anaknya saat bercerita dengan teman,
tetangga maupun saudara.

Setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, aku memberanikan diri untuk membuka lembar kehidupan yang baru dengan masuk ke pesantren yang ada di tengah- tengah kota, Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Ponorogo. Pro-kontra dari orang-orang sekitar seketika terdengar oleh telingaku dan kedua orang tuaku yang menyebabkan kedua orang tuaku ragu untuk mendukung keinginanku. Mereka mengira jika “Santri hanya jago ngaji dan pasti ketinggalan zaman”. Dan ini menjadi tantangan pertamaku untuk memilih jalan yang berbeda. Tahun pertama di pesantren terasa berat. Aku harus pintar membagi waktu antara sekolah formal, madrasah diniyah, dan kegiatan pesantren. Tapi justru disinilah aku menemukan jati diri. Aku terlibat aktif di beberapa organisasi seperti Jurnalistik, OSIS, PMR, Dewan Kepramukaan, bahkan menjadi pengurus pondok. Prestasi pun datang silih berganti. Aku menjuarai lomba artikel tingkat kabupaten, juara cover lagu islami tingkat nasional, juara pidato tingkat provinsi, juara kepramukaan tingkat provinsi, terbaik baca kitab kuning, hafal nadhom- nadhom ‘Aqidatul awwam dan imrithi, dan masih banyak lagi. Aku ingat bagaimana rasanya berdiri diatas panggung untuk menerima penghargaan itu, satu momen yang sangat berarti.

Tapi yang paling berkesan adalah momen saat para guru berbisik, “Kamu bisa lebih dari ini, Riris”. Saat diriku mendaftar SNBP, cemooh orang-orang mulai terdengar kembali, dadaku terasa sesak. Ternyata prestasi-prestasi yang ku raih kemarin tak cukup untuk meyakinkan mereka bahwa aq bisa dan mampu. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan “Anak orang miskin itu ga usah sok-sok an mimpi yang tinggi, nanti kalu jatuh sakit sendiri”. Kata saudaraku “Bapaknya aja cuman pedagang asongan, sok-sok an nguliahin anaknya ke Surabaya”. Tetanggaku juga sempat mengatakan “Kuliah jauh-jauh juga buat apa, lihat itu anaknya pak A belum tamat kuliah udah hamil duluan akhirnya juga nikah dan jadi ibu rumah tangga doang”. Bahkan kakak kelasku pernah bilang “Kalau nggak masuk SNBP ya yang sabar aja, wajar. Sekolah kita tergolong baru, masih dalam lingkup pesantren juga, kalau dibandingkan sama sekolah luar ya pasti kalah saing”. Semua orang seolah-olah meragukan mimpiku, mimpi gadis desa yang hidupnya sederhana, mimpi seorang santriwati yang menginginkan pendidikan tinggi. Diriku tetap tegar, tetap tenang walau banyak yang meragukan karena mereka hanya dapat berbicara tanpa tahu bagaimana proses yang kita hadapi, bagaimana lika liku perjalanan yang telah kita lalui. Ayahku pernah bilang “Kalau kamu sanggup ya jalani aja, yang tau potensi dirimu ya kamu sendiri. Ayah yakin kamu bisa. Tidak perlu meragukan takdir tuhan, kalau memang ini yang terbaik pasti akan Allah kasih jalan”, ibuku juga pernah bilang “Kalau mimpiku dulu belum sempat tercapai, semoga anak-anakku kelak yang dapat mencapai mimpi itu” jika sudah diyakinkan oleh kedua orang tua lantas hal apa yang dapat meragukan mimpi kita?. Setiap malam diriku bersimpuh, menangis dalam do’a memohon yang terbaik kepada Allah, memohon diberikan kekuatan dilapangkan dada menerima setiap takdir yang telah tuhan tentukan, memohon agar tidak mengecewakan orang-orang yang aku sayang. Diriku juga tidak lupa untuk sowan kepada para guru dan kiai, memohon do’a restu agar apa yang telah ku perjuangkan selama ini mendapat hasil yang terbaik. Entah hasil nya bagaimana diriku ikhlas, perjuangan bukanlah akhir dari segalanya, ia akan memperoleh hasil yang kadang tidak kita duga.

Tepat ditanggal 27 Maret 2024, tanggal yang takkan kulupakan. Saat jari-jariku gemetar menekan tombol refresh dan layar laptop menampilkan warna biru tanda aku lolos dan diterima kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dengan mengambil program pendidikan Psikologi. Alhamdulillah ya Allah, air mataku jatuh tanpa kusadari, bahagia menyelimuti diriku pada saat itu. Banyak yang mengucap selamat, bahkan orang yang dulu
meragukanku kini mengangguk hormat.
Hari ini, aku mengerti satu hal bahwa keterbatasan bukanlah hal yang perlu ditakutkan
karena sejatinya do’a, usaha, dan dukungan dari mereka yang percaya pada kitalah yang
menentukan. Mereka bilang anak pesantren sepertiku tak punya masa depan. Tapi kali ini, aku
siap membuktikan bahwa dugaan mereka salah. Kini, setiap kali melewati gerbang kampus,
aku tersenyum. Dulu mereka bilang tembok pesantren adalah penghalang. Tapi ternyata, ia
adalah tangga yang membawaku sampai di sini. Untuk kalian yang sedang diragukan, jadikan
setiap “tidak bisa” sebagai bahan bakar semangatmu. Karena sejarah tak pernah ditulis oleh
mereka yang hanya diam saat dunia mengatakan “kamu akan gagal”.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *