Kekayaan Sejati di luar materi oleh Siti Aisah Vindiansah

Menceritakan siti aisah. Kita panggil saja siti, siti adalah gadis yang berusia 19 tahun. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana. Profesi bapak ibunya adalah pedagang, namun ini fleksibel. Bapak dan ibu siti bisa bekerja serabutan demi uang halal untuk menafkahi putra putrinya. Profesi bapak siti sebagai penjual bakso keliling dan petani sawah. Sedangkan profesi ibu siti saat pagi membantu orang untuk buka lapak sayur di dekat rumahnya, siang sebagai penjual kerupukan menitipkan krupuk di warung, serta menjadi ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan anak-anak.Sejak kecil, siti terbiasa berusaha sendiri untuk memenuhi keinginannya. Ia paham keterbatasan ekonomi keluarganya. Ingatannya tentang masa kecil selalu diwarnai penolakan ibunya terhadap keinginan-keinginannya, karena membutuhkan biaya. Cita-cita menjadi mayoret drumband harus ia kubur karena biaya kostum dan aksesoris yang mahal. Namun, Siti terpilih sebagai pianis drumband sekolahnya, hal ini membuktikan kemampuan mengingat dan berpikirnya yang tajam. Ia menikmati peran ini sepanjang SD.

Melanjutkan pendidikannya di bangku SMP. Saat mendaftar SMP, Siti bertekad masuk sekolah negeri favorit di daerahnya, meski ibunya khawatir biaya pendaftarannya mahal. Dengan tekad kuat, Siti belajar keras dan mempersiapkan diri untuk tes masuk. Usaha dan doanya terjawab, Siti diterima di sekolah impiannya. Di SMP, Siti bergaul baik dengan teman-temannya, mengikuti tren anak muda tanpa membebani orang tua. Selain sekolah, ia berjualan jajanan viral lain yang digemari banyak orang di waktu libur untuk tambahan uang saku, keuntungan berdagang digunakannya untuk bersosialisasi dan mengenal dunia luar secara positif. Kehidupannya berputar antara sekolah, berdagang, dan menikmati hasil jerih payahnya. Tak terasa tinggal menghitung bulan siti akan naik tingkat menjadi anak SMA. Terlintas di benak siti “waktu SMA adalah 3 tahun, dan akan sama rasanya seperti 3 tahun di SMP. Tak seberapa lamanya, lantas langkah apa yang harus ku ambil setelah aku lulus dari SMA?” pertanyaan siti pada dirinya sendiri. Saat inilah siti mengenali dirinya lebih dalam dimana minat bakatnya untuk menyambung lipatan cerita hidup setelah SMA. Ia bercita-cita menjadi Polisi Wanita ”POLWAN”. Cita-citanya menjadi Polwan membara, ia pun tekun berlatih renang, mempersiapkan diri untuk tes psikotes, dan rajin berolahraga. Ia sadar butuh dukungan orang tua, namun impiannya kandas saat ibunya menolak karena keterbatasan ekonomi, ibunya menyarankan kuliah saja. Kecewa, Siti merasa terhalang tembok restu orangtua. Selama SMA, Siti aktif berorganisasi, menjadi ketua OSIS, dan meraih prestasi. Ia berharap hal ini membantunya masuk Unniversitas Negeri pilihannya. Usaha jualannya semakin berkembang, membiayai study tour kegiatan SMA-nya dan sebagian kebutuhannya. Semakin bertambah umur, biaya untuk kebutuhannya beriringan bertambah. Siti melihat kedua orang tuanya yang tak henti mencari nafkah untuk anaknya dari bangun tidur hingga waktu tidur lagi. Melihat ibu nya yang menjadi wanita tahan badai dari segala hal. Tak kenal lelah membantu bapak siti mencari nafkah.

Suatu hari pukul 19;00 WIB kejadian yang sangat diingat oleh siti. Ia memperjelas indra penglihatnya saat itu. Melihat bapaknya pedagang bakso keliling membawa gerobak bakso ditabrak oleh seoarang laki-laki. Tepat di depan matanya, bakso yang akan dijual berserakan di jalan. Kepala bapak siti yang penuh darah, bagian punggung bapak siti terkena tumpahan kuah bakso yang panas. Tanpa berkata, Siti langsung membantu bapaknya yang sedang terjatuh dan bergegas mengantar sang bapak mengobati luka ke Rumah Sakit terdekat. Saat itulah siti berjanji pada dirinya sendiri. “Tidak memandang genderku Perempuan. Dengan umur yang sekarang sudah bukan lagi masanya menjadi beban orang tua, bagaimana caranya aku bisa tetap menyambung lipatan cerita hidup ini dengan segala usahaku sendiri”.

Tamat cerita siti di bangku SMA. Kini siti melanjutkan pendidikannya menjadi mahasiswi. Siti lolos menjadi mahasiswi baru Unniversitas Negeri. Siti juga lolos beasiswa atas ketekunan yang telah ia tanam waktu SMA. Beasiswa ini cukup meringankan biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tuanya. Selain kuliah, siti tetap melanjutkan usaha jualannya yang sudah ia bangun dari SMP. Siti cerdik dalam membaca peluang usaha, dari keuntungan berdagang ia kembangkan lagi membuka usaha persewaan kebaya modern yang banyak diminati oleh seluruh khalayak muda. Dan dari sinilah, siti dapat mencari uang saku serta membantu kedua orang tua untuk kebutuhan sehari hari. Siti berhasil manajemen waktu mengejar karir tanpa melupakan pendidikannya. Hingga saat ini, siti mempunyai kedai makanan kuliner dan sewa kebaya modern dan berencana setelah S1 berhasil diraih. Ia ingin tetap melanjutkkan S2 dengan mengambil program studi manajemen bisnis untuk mengembangkan usahanya yang ia bangun sejak awal dengan modal uang saku sekolah .

Kisah Siti Aisah mengajarkan kita bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang kesuksesan. Semangat pantang menyerah, kerja keras, dan kreativitas adalah kunci. Siti membuktikannya dengan tekun belajar, berdagang, dan aktif berorganisasi. Kegagalan meraih cita-cita sebagai Polwan justru menjadikannya lebih kuat dan mendorongnya untuk menemukan jalan lain menuju kesuksesan. Ia berhasil kuliah di universitas negeri favorit berkat prestasi dan beasiswa, sembari mengembangkan bisnisnya sendiri. Keputusan Siti untuk tetap berdagang, bahkan mengembangkannya menjadi usaha yang lebih besar, mencerminkan kemandirian dan tanggung jawabnya. Ia tidak hanya meraih kesuksesan finansial, tetapi juga kepuasan atas usaha dan pencapaiannya sendiri. Siti membuktikan bahwa keberhasilan diukur bukan dengan harta semata, tetapi dengan keuletan, ketekunan, dan semangat untuk selalu maju.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *