Hidup di lingkungan pesantren mengajarkanku banyak hal: kesederhanaan, kemandirian, dan keteguhan hati. Pagi itu, suara santri yang bersahutan dan gemericik air wudu membangunkanku dengan semangat. Sebuah pengumuman menggugah harapanku pendaftaran SNBP telah dibuka, jalur prestasi untuk masuk perguruan tinggi. Sebagai santri kelas akhir, aku tahu ini peluang yang tak boleh dilewatkan.Dengan tekad yang kuat, aku pergi sendiri ke ruang TU saat jam istirahat. Aku mengajukan diri untuk mendaftar. Meski surat persetujuan seharusnya ditandatangani orang tua, karena keterbatasan biaya dan waktu, aku menandatanganinya sendiri. Aku tahu ini bukan keputusan yang ideal, tapi aku ingin menunjukkan kesungguhan. Di balik tindakan itu, ada harapan besar bukan pembangkangan, tapi keberanian mengambil keputusan di tengah keterbatasan.
Hari-hari berikutnya, proses pendaftaran berjalan. Aku sempat takut bila ada biaya karena keadaan yang terbatas, tapi alhamdulillah semua gratis. Aku urus seluruh berkas sendiri, tanpa membebani orang tua yang tengah berjuang menghidupi keluarga. Ketika harus memilih jurusan dan universitas, aku sempat bimbang. Tapi keyakinan menuntunku pada UINSA karena cukup dekat untuk tetap terhubung dengan keluarga.Disaat waktu ngaji pesan kiai kepada seluruh santrinya makin meneguhkan hatiku: “Apa pun jalannya, hadapi. Jangan lupa langitkan doa.” Sejak itu, doa menjadi teman setia perjuanganku. Hari pengumuman tiba. Dengan jantung berdebar, aku membuka hasil seleksi. Namun takdir berkata lain. Saat hasil SNBP keluar, aku dinyatakan tidak lolos. Hati ini sempat runtuh, tapi aku tak mau menyerah.
Dengan keberanian, aku sampaikan kegagalan ini kepada orang tua. Bukannya kecewa, mereka justru mendukung penuh. Ayah bahkan mengorbankan simpanan makan demi biaya seleksi jalur selanjutnya yakni jalur SNBT. Aku terharu dari keterbatasan mereka, lahir pengorbanan yang luar biasa.Seleksi kali ini lebih menantang. Lokasinya jauh di barat Madura, sedang aku di timur. Aku harus menempuh perjalanan panjang, menyewa kendaraan, dan bermalam di tempat asing. Semua kulalui demi cita-cita. Seleksi berjalan lancar, dan aku kembali menunggu hasilnya dengan doa yang tak putus.Di tengah penantian, aku mendapat kabar tentang seleksi UMPTKIN untuk jurusan keagamaan. Ini jalur yang selaras dengan latar belakangku sebagai santri. Kali ini, aku tidak melangkah sendiri. Aku sowan ke kiai, meminta doa dan restu. Beliau berkata, “Pamit ke orang tuamu dulu, baru ke aku.” Itu nasihat yang mengakar bahwa restu adalah kunci.
Sayangnya, hasil seleksi SNBT kembali mengecewakan. Tapi aku tak patah semangat. Dengan dorongan dari orang tua dan guru, aku ikut seleksi UMPTKIN meskipun harus mengeluarkan uang lagi, dan merembukan pilihan jurusan dengan mereka. Aku percaya, ketika hati ikhlas dan niat lurus, Allah akan tunjukkan jalan terbaik.Menjelang seleksi, waktuku banyak tersita untuk membantu kiai. Belajarku tidak maksimal, tapi setiap waktu istirahat kugunakan sebaik mungkin. Hari seleksi tiba. Dengan bekal doa dan restu, aku berangkat. Entah mengapa soal-soal yang muncul terasa familiar, seolah doa dan pengabdian membuka jalan pemahaman yang sebelumnya tersembunyi.Beberapa minggu kemudian, keluargaku berkumpul tanpa ada alasan. Di hadapan mereka, aku membuka hasil seleksi dengan gemetar. Dan di situlah titik balik itu terjadi aku dinyatakan lolos! Air mata bahagia tak tertahan. Dari segala keterbatasan, akhirnya aku meraih peluang besar.
Aku resmi menjadi mahasiswa UINSA. UKT yang ditetapkan cukup tinggi, tapi aku tak gentar. Tak lama kemudian, pendaftaran beasiswa KIPK dibuka. Aku mendaftar, mengikuti wawancara, dan berharap. Doa-doaku dijawab. Aku dinyatakan sebagai penerima KIPK. Uang beasiswa itu sangat berarti, aku bisa membayar uang asrama, membeli laptop, dan meringankan beban keluarga.Kini, aku tak hanya menimba ilmu, tapi juga mulai berkarya. Dengan laptop dari beasiswa, aku menulis dan mengirim artikel ke media. Salah satunya dimuat di Tsaqafah.id dengan judul “Bloody Sand in Alamut: Si Haus Darah dari Lembah Alamut ‘Assassin’.”Perjalanan ini bukanlah jalan yang lurus dan lapang. Tapi dari keterbatasan, aku belajar tentang kekuatan doa, restu orang tua, dan keteguhan hati. Hari ini aku berdiri bukan karena tidak pernah jatuh, tapi karena setiap kali terjatuh, aku memilih untuk bangkit.Inilah kisahku—”sebuah langkah panjang dari keterbatasan menuju kesuksesan”.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Bersabarlah atas segala yang menyakitkan, karena kesabaran itu adalah kunci keberhasilan.”
